Siklus Hidup Bisnis BPR ( Rural Bank Life Cycle ) dan Tantangan Industri BPR Di Masa Depan

Selasa, 02 Juli 2019 | 07:12 WITA

Siklus Hidup Bisnis BPR ( Rural Bank Life Cycle ) dan Tantangan Industri BPR Di Masa Depan

I Made Maharta Wijaya,SE,MM

 

balibanknews.com
Pemberlakuan Peraturan OJK (POJK) Nomor 5/POJK.03/2015 mengenai Kewajiban Penyediaan Modal Minimum dan Pemenuhan Modal Inti Minimum BPR yang diatur dalam Peraturan OJK (POJK) 2015, dimana OJK mensyaratkan BPR harus memenuhi modal inti Rp 3 miliar pada akhir 2019 dan pada tahun 2024 mendatang sebesar Rp 6 miliar cukup membuat banyak BPR mengalami kesulitan. Oleh karena itu, kondisi ini sepertinya akan banyak menarik perhatian investor baru untuk melirik bisnis BPR. Terlebih OJK sudah menghimbau bagi BPR yang tidak bisa memenuhi modal inti sampai akhir desember 2019 kegiatan aktivitasnya akan dibatasi. Untuk itu, BPR yang tidak mampu memenuhi modal ini disarankan melakukan merger/konsolidasi atau alternatif mencari investor baru untuk memperkuat permodalan di masa depan.

Bisnis di industri BPR memang sangat unik, karena bisnis ini berbeda dengan bisnis perbankan lainnya dimana saat ini pemilik bank ( pemegang saham ) dituntut untuk memiliki kecukupan modal sehingga BPR bisa sustainable. BPR baru dianggap sudah kuat pondasinya dan berkelanjutan jika setelah melewati fase 5 tahun dalam perkembangannya. Strategi bisnis di BPR ini dianalogikan sebagai siklus hidup bisnis BPR ( Rural Bank Life Cycle ) yang melewati beberapa fase pengembangan diantaranya :

1. Fase perkenalan ( Introduce ) Fase ini ditahun pertama Bank BPR baru diperkenalkan di masyarakat ( public) belum dikenal masyarakat luas disini Bank BPR harus memiliki strategi berbeda untuk memperkenalkan Bprnya bisa lewat strategi branding : social media, event,promosi, grebek pasar dan acara sosial lainya

2. Fase pertumbuhan (Growth ) Fase ini ditahun kedua dan ketiga Bank BPR mulai dikenal di masyarakat dan tumbuh berkembang baik dari sisi asset, kredit, Dana pihak ketiga ( DPK ) berupa : tabungan , deposito dan kepercayaan antar bank dimana bpr ini sudah mulai memiliki penetrasi pasar yang bagus dimana bpr tumbuh di segala lini dan didukung oleh sdm kompeten lewat hasil pendidikan dan pelatihan yang sudah dilakukan

3. Fase Kedewasaan ( Maturity ) Di fase ini ditahun keempat BPR sudah semakin tumbuh dan dewasa , disini dalam pengembangan bisnis Top manajemen sudah berpikir segmen bisnis mana yang akan dikelola lebih focus kedepan dan lebih cermat dalam mitigasi risiko untuk segemen bisnis yang dikelola karena ditahap ini kompetitor BPR lain pasti sudah melihat dan melirik perkembangan apa yang akan dilakukan BPR ini sehingga semakin menambah ketatnya persaingan.

4. Fase Puncak ( Booming ) Fase ini ditahun kelima Bank BPR semakin luas dikenal di publik dan sudah bisa mempresentasikan dirinya untuk memperoleh posisi ( positioning ) di industri BPR dan focus disegmen mana dari kompetitornya, dalam fase ini BPR konsisten dalam kinerja rasio keuangan yang sehat, stabilitas laba dan penyelesaian penanganan kredit bermasalah dilakukan secara efektif . Tahap ini merupakan tahap akhir tinggal landas road map 5 tahun pertama , namun sering kali banyak Bank BPR terlalu percaya diri di tahap ini dan tidak melakukan inovasi baik itu dari sisi produk , Informasi teknologi( IT), SDM, service dan modal kedepanya sehingga untuk melanjutkan road map 5 tahun tahap ke dua sudah tertinggal jauh dari pesaingnya sehingga BPR mengalami kemunduran ( decline ).

Analogi tersebut bisa diambil contoh dari salah satu BPR yang saat ini berkembang cukup baik, yakni BPR KAS atau PT. BPR Karya Artha Sejahtera. Dimana posisi BPR KAS saat ini, BPR KAS baru menginjak ulang tahun yang ke-3 pada tanggal 18 Mei 2019 sebagai BPR yang tergolong baru dan ikut meramaikan peta persaingan di industri BPR di Bali menjadikan BPR yang memiliki semangat “Reborn Becoming Local Champion’’ untuk tumbuh dan berkembang dengan sehat dan berkontribusi untuk pengembangan sektor UMKM di Bali, posisi BPR KAS saat ini baru berada menuju fase kedewasaan ( maturity ) dan BPR ini fokus dan concern untuk mendukung sektor UMKM di Bali karena hambatan utama yang sering dialami para pelaku UMKM ini dalam mengembangkan usahanya adalah tidak adanya akses permodalan yang memadai ke lembaga keuangan bank sehingga sering para pelaku UMKM kesulitan untuk mendapatkan pendanaan dimana baru sekitar 32.600 UMKM yang bisa mengakses penyaluran modal perbankan dari total 326.009 UMKM di Bali, selain banyak juga kendala dalam pemasaran produk , sumber daya manusia (SDM) dan penguasaan IT bagi para pelaku UMKM di Bali.

Para pemilik Bank BPR ( owner) seharusnya bisa lebih memahami bagaimana siklus bisnis BPR jika ingin terjun di industri ini karena return on investment ( ROI ) akan diterima dalam jangka panjang tidak mengharapkan laba yang instan, karena dalam pengelolaan manajemen keuangan sebuah bank laba ( profit) yang dicapai BPR itu ada beberapa kewajiban yang harus dipenuhi sesuai peraturan regulator diantaranya kewajiban modal setor dan dalam bentuk cadangan bisa di lakukan secara organik sesuai pemenuhan modal inti yang telah disarankan OJK. Bisnis di industri BPR ini diharapkan kepada pemilik dan pengurus harus memiliki visi dan misi yang sama dalam pengelolaan bank yang sehat , mengetahui fungsi dan peranan masing-masing karena beberapa BPR dicabut izinnya oleh OJK factor utama yang menjadi penyebabnya adalah fraud yang dilakukan oleh pemilik atau pengurus didalamnya karena bisnis BPR adalah bisnis yang penuh resiko . Tantangan kedepan yang akan dihadapi BPR untuk periode semester ke-2 tahun 2019 diantaranya :

1. Penurunan net interest margin ( NIM) akibat mahalnya cost of fund (COF) dan biaya operasional bank, 2.Likuiditas dan persaingan dana pihak ketiga (DPK) antarbank makin ketat yang ditandai dengan suku bunga tinggi , 3. Belum pulihnya sektor property di provinsi Bali berdampak dalam hal penyaluran kredit dengan prinsip kehati hatian ( prudential banking ), 4. Distruption banking, bank-bank akan bersaing dengan non bank meski volume peer to peer lending masih kecil dan untuk menghadapi persaingan di bidang digital banking kedepannya BPR disarankan OJK untuk bekerja sama dengan lembaga fintech, 5. Persaingan di segmen kredit yang semakin ketat antara BPR,Bank Umum, dan lembaga keuangan mikro lainya 6. Perekonomian Bali selama ini sangat bertumpu terhadap pariwisata (termasuk investasi tanpa arah) yang sangat rentan terhadap berbagai gejolak dan sangat sensitive terhadap berbagai isu sehingga tantangan dibidang perbankan dan UMKM di bali adalah memperluas lapangan kerja, meningkatkan investasi berbasis Tri Hita Karana dan daya saing ekspor, meningkatkan ekonomi kerakyatan melaui peningkatan peran serta lembaga keuangan perbankan dalam partisipasi /kontribusinya terhadap kredit usaha kecil yang produktif non konsumtif . 

Penulis: I Made Maharta Wijaya,S.E,MM
Komisaris Utama BPR KAS Indonesia


Selasa, 02 Juli 2019 | 07:12 WITA


TAGS:



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: